Showing posts with label marriage. Show all posts
Showing posts with label marriage. Show all posts

Thursday, February 12, 2015

Partner of Life

someone....
Benih yang baik membutuhkan ladang yang baik, pernikahan yang langgeng membutuhkan kebahagiaan, karna langgeng aja gak cukup kalau gak bahagia!  Keduanya saling berkesinambungan untuk mempertahankan sebuah pernikahan dimana kita memulai menjalani kehidupan yang sebenarnya :')
 see...

Saturday, January 24, 2015

God is Director

I found this...one of my old friend share on facebook

http://www.hipwee.com/hubungan/untuk-kamu-yang-menyebut-tuhan-dengan-nama-berbeda-tapi-sungguh-aku-cinta/

“Ah Tuhan, kenapa Kau pertemukan aku dengan dia? Kenapa tak Kau kenalkan aku pada ,,,,,,,,,,,,,,,, Bukan kah Kau Maha Berkuasa atas diriku seutuhnya?” 
 Kita pantas berbangga karena dari miliaran pasangan di luar sana, kita terpilih melakoni sebuah cerita cinta yang tak biasa.

I  met a woman when I was in bandung, sometimes we talk a lot.... In fact, sampai detik ini baik2 aja, their different religion marriage is pretty fine sampai udah punya cucu malah

Tuesday, July 31, 2012

WHEN 2 (NOT ALWAYS) BECOME ONE

Malam itu, kami sedang menonton sebuah acara televisi.
Saya: “Itu siapa, sih?”
Suami: “Itu Hariman Siregar, dia aktivis mahasiswa pas Malari tahun 74 yang mau menjatuhkan Soeharto model kaya tahun 98 kemarin.”
Suami saya pun menjelaskan panjang lebar mengenai Hariman Siregar dan kami pun asyik mengobrol mengenai kondisi politik Indonesia. Sampai tiba-tiba, “Ini lagu apa, sih?”
Saya: “Oh, itu George Michael. Ini lagu Wake Me Up Before You Gogo waktu dia masih sama The Wham, band-nya.”
Ya, kira-kira dapat gambaran, ya, bagaimana ‘dekat’nya interest saya dan suami? Masih banyak lagi perbedaan antara kami berdua.
Saya dari kecil hidup dekat dengan keluarga. Suami sejak SMP sudah ‘keluar’ rumah untuk sekolah di kota lain.
*gw banget SD kelas 3 gw udh nyeberang jaLan raya sendiri  T_T, udh diberi "kepercayaan" bawa kunci rumah, udh dikejar/ dideketin/ digonggongin anjing stupid=sm  kaya pemiLiknya. Masa anak perempuan kecil mw cekolah jalan sendirian di deketin+digonggongin. Sementara di deket gw ada abang2 yg tampangnya serem, terus ada anak Laki2 yg Lari gara2 ada elu njiiing. SMP gw udh naek angkot sendiri jauh ke cawang, Kp. Melayu buat les. Keras didikan bokap gw :shakehand. semangat nak, jauh Lebih baik jd perempuan tapi berjiwa ksatria drpd jd laki2 tp tidak bertanggung jawab.
--baru mikir habis kuLiah ttg ini.
Saya biasa menghabiskan waktu dengan teman-teman di cafe atau coffee shop, suami suka camping atau naik gunung.
Saya enggan keluar rumah kalau hanya memakai daster, suami cuek pakai sandal jepit kalau ke mal.
Saya penikmat buku, majalah, tabloid dan film, suami penikmat koran dan tayangan berita serta sepakbola.
Begitu banyak perbedaan antara kami, bahkan banyak orang-orang sekitar kami yang berspekulasi saat kami mulai dekat dan memutuskan menikah. Tragis, ya *duile, lebay amat, haha*. Tapi serius, banyak yang meragukan hubungan kami. Terus apa yang membuat kami tetap bersama?
Niat *suit suiiit*.
Pasti banyak Mommies yang merasa hubungan dengan suaminya juga penuh perbedaan. Tapi sungguh, kalau sudah kenal saya dan suami baru akan tahu perbedaan macam apa yang ada di antara kami.
Di awal pernikahan hingga tahun keempat pernikahan, menyatukan 2 kepala (yang kebetulan sama-sama keras, nah ini dia persamaan kami, sama-sama keras kepala!), nggak mudah sama sekali. Ada saja hal-hal kecil yang kami ributkan, mulai dari saya yang merasa nggak diperhatikan, suami yang merasa dicurigai terus akibat saya kalau nanya seperti satpam (hehehe) dsb dsb.

Tuesday, July 17, 2012

Habibie & Ainun on Movie


Novel dalam berbagai bahasa

Setelah novelnya Laris manis ya..... novelnya mau dibuat fiLmnya..yeay! Tadi aku Liat di berita gitu. BJ. Habibie nya aja terharu, coz ide pembuatan fiLmnya itu kan memang bukan dari dia--pas wawancara.
Kisah Cinta BJ. Habibie & Ibu Ainun ini menurut narator berita ya... setia tanpa batas. 
Iya siy ya kalau aku lihat siy emang gitu, coba deh googling pas Ibu Ainun terbaring sakit, melawan penyakitnya, Pak Habibie setia menemani...Lihat photonya aja HadeeH sedih bener. Aku ga mw nampilin foto yang di RS nya ya *ga etis, coz cuma mw ngomongin movie nya aja :)

Setiap Hari Jumat Pak Habibie itu pasti ke makamnya Alm.Bu Ainun, dia pakai seLendangnya istrinya + bawa bunga meLatie. Gimana besarnya rasa sayangnya Pak Habibie pasti orang juga tau ya, meskipun ga kenal aja bisa tau rasanya. Buat yang ga tau rasanya mungkin Lw semua ga punya rasa sayang kalee ya, ga punya Hati, ga punya belas kasih, cinta kasih yang digembar gemborkan. Padahal kenyataanya........*ups.

Lihat Liputan pas premiernya bakal di buat film aja rameee banget. Yah sharing perasaan kali yaa.


Menurut aku sendiri ya, setia itu bukan hanya tidak selingkuh ya. Tapi tetap ada di sampingnya gimana pun keadaannya......itu kalau km sampai otaknya!! Logikanya kan kalau memang sayang kan dia ga bakalan ya datang & pergi seenaknya apalagi sampai ninggalin gitu.
Boro boro maaf, pamit aja kagak....et dah tuh orang sok suci bener ya nyakitin sesama, udah kebal sm siksa Tuhan apa..??bujug.

Monday, July 9, 2012

Karena dia Manusia Biasa

Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu? Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban duniawi (cakep atau tajir, manusiawi lah). Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya. Hingga detik ini saya masih ingat setiap detail percakapannya. Jawaban salah seorang teman yang baru saja menikah. Proses menuju pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan 2 bulan. Lalu memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya dilakukan dalam waktu sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat, saya tidak akan heran. Proses pernikahan seperti ini sudah lazim.



Dia bukanlah akhwat, sama seperti saya. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih suami. Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika dia memberitahu akan menikah, saya tidak menanggapi dengan serius. Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi.



Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal pernikahannya. Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya selama proses pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya. Asli. Saya pengin tau, kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu. Saya baru dapat menggambil cuti pada H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya memutuskan untuk menginap dirumahnya. Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa ngobrol -hanya- berdua. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh membelenggu kita. Padahal rencananya kita ingin ngobrol tentang banyak hal. Akhirnya, bisa juga kita ngobrol berdua. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia juga ingin bercerita banyak pada saya. Beberapa kali Mamanya mengetok pintu, meminta kita tidur.



"Aku gak bisa tidur." Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya paham kondisinya saat ini. "Lampunya dimatiin aja, biar dikira kita dah tidur." "Iya.. ya." Dia mematikan lampu neon kamar dan menggantinya dengan lampu kamar yang temaram. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik. Suatu hal yang sudah lama sekali tidak kita lakukan. Kita berbicara banyak hal, tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya terlihat jelas dalam keremangan kamar. Memunculkan aura cinta yang menerangi kamar saat itu. Akhirnya terlontar juga sebuah pertanyaan yang selama ini saya pendam.

"Kenapa kamu memilih dia?" Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari tidurnya sambil meraih HP dibawah bantalku. Berlahan dia membuka laci meja riasnya. Dengan bantuan nyala LCD HP dia mengais lembaran kertas di dalamnya. Perlahan dia menutup laci kembali lalu menyerahkan selembar amplop pada saya. Saya menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang dengan kop surat perusahaan tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih. Saya memandangnya tak mengerti. Eeh, dianya malah ketawa geli.

"Buka aja." Sebuah kertas saya tarik keluar. kertas polos ukuran A4, saya menebak warnanya pasti putih hehehe. Saya membaca satu kalimat di atas dideretan paling atas. Saya menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan senyum. Sementara dia Cuma ngikik melihat ekspresi saya. Saya memulai membacanya. Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan kata-katanya. Begini isi surat itu.


Kepada Yth


Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan calon kakak buat adik-adik saya

Di tempat

Assalamu'alaikum Wr Wb

Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya mohon, bacalah dulu sampai selesai.

Saya, yang bernama ...... menginginkan anda ...... untuk menjadi istri saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya punya pekerjaan. Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan. Tapi yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anakku kelak.

Saya memang masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak selamannya. Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan.

Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya.

Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja. Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena saya tidak tahu suratan jodoh saya. Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang baik.

Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih anda. Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah. Dan yang pasti, saya menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah.

Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih baik dari saat ini. Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya. Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr Wb

                                          



Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini saya membaca surat 'lamaran' yang begitu indah. Sederhana, jujur dan realistis. Tanpa janji-janji gombal dan kata yang berbunga-bunga. Surat cinta minimalis, saya menyebutnya. Saya menatap sahabat disamping saya. Dia menatap saya dengan senyum tertahan.

"Kenapa kamu memilih dia." "Karena dia manusia biasa." Dia menjawab mantap. "Dia sadar bahwa dia manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya. Yang aku tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa. Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari. Entah kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku."


"Maksudnya?" "Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih ada. Iya kan ? Paling gak. Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau suatu saat nanti kita jadi gembel. Hahaha."


"Ssttt." Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita belum tidur. Terdiam kita memasang telinga. Sunyi. Suara jengkering terdengar nyaring diluar tembok. "Udah tidur. Besok kamu kucel, ntar aku yang dimarahin Mama." Kita kembali rebahan. Tapi mata ini tidak bisa terpejam. Percakapan kita tadi masih terngiang terus ditelinga saya.


"Tidur. Dah malam." Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin dia tidur, agar dia terlihat cantik besok pagi. Kantuk saya hilang sudah, kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih. * * *


Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu. Ketika manusia sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa ada hal lain yang mengatur segala kehidupannya. Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah tergores sejak ruh ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan berapa lama pernikahannya kelak. Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tapi sebuah 'proses usaha'.

Betapa indah bila proses menuju pernikahan mengabaikan harta, tahta dan 'nama'. Embel-embel predikat diri yang selama ini melekat ditanggalkan. Ketika segala yang 'melekat' pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan yang utama. Pernikahan hanya dilandasi karena Allah semata. Diniatkan untuk ibadah. Menyerahkan secara total pada Allah yang membuat skenarionya. Maka semua menjadi indah.

Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA. Hanya Allah yang mampu memudahkan segala urusan. Hanya Allah yang mampu menyegerakan sebuah pernikahan. Kita hanya bisa memohon keridhoan Allah. Meminta-NYA mengucurkan barokah dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah jua yang akan menjaga ketenangan dan kemantapan untuk menikah.


Lalu, bagaimana dengan cinta? Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses. Proses dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya. Agar cinta itu bisa bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam pernikahan yang suci. Witing tresno jalaran garwo (sigaraning nyowo), kalau diterjemahkan secara bebas: "Cinta tumbuh karena suami/istri( belahan jiwa)."

Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa. Amin


(coppas dr - Shopie Reynard)